Rabu, 08 Juni 2011

Warna-Warna Kemarau

Aku masih disini ketika cahaya jingga keemasan mulai jatuh di atap rumahku.  Aku masih disini menatap riuh anak-anak lelaki yang sedang asyik bermain layang-layang di halaman sempit di seberang rumahku.

Aku masih disini, ditempat yang sama tapi dengan suasana yang berbeda, tempat yang sama 10 tahun yang lalu ketika aku masih suka bermain layang-layang bersama teman-teman kecilku. Tapi ada yang berubah disini, aku merasakan ada sesuatu yang hilang, ada yang ganjil dengan apa yang kulihat kala senja itu.

Sepuluh tahun yang lalu, usiaku masih 9 tahun, menjadi anak perempuan yang justru lebih suka permainan anak laki-laki, petak umpet, kejar-kejarang, perang-perangan, layang-layang, memancing dan semua hal yang terkadang justru memancing emosi ibuku. Musim kemarau menjadi hari-hari yang hangat nan ceria saat itu, ada 2 hal yang selalu kuingat, yaitu layang-layang dan capung.

Disetiap hari-hari hangat itu, aku menanti fajar bersama teman-teman kecilku. Angin panas kemarau menjadi sahabat baik kami menerbangkan layang-layang di  tanah lapang, sementara para capung, sungguh puluhan, atau ratusan atau bahkan ribuan capung selalu menghiasi langit ku setiap kali hari-hari kemarau tiba. Aku ingat benar caraku menikmati  hembusan angin hangat kemarau dengan memainkan benang layang-layangku yang terbang indah ditemani ribuan warna dari berbagai jenis capung yang dengan anggunnya memamerkan manuver-manuver terbaik mereka.

Sering kami mencoba menangkap warna-warna yang terbang itu dan tak jarang pula kami terjerembab dalam rumput karena usaha konyol itu. Saat kami berhasil menangkap seekor capung besar, kami mengikatkan benang berwarna dan membiarkannya terbang bebas kembali. Sangat indah, benang itu seolah nampak seperti ekornya yang terjuntai dengan indah, menambah keanggunan saat ia bermanuver. Terkadang kami berhasil menangkap capung-capung kecil, namun saat kami melepaskannya ia justru tidak terbang kembali. Saat itu kupikir ia tak mau terbang lagi karena masih ingin bersama kami, maka kami berusaha membujuknya bermanuver lagi dengan mengangkatnya tinggi-tinggi di ujung jari kami, namun ia hanya diam, diam melekat erat di ujung jari kami, maka kami menempatkannya diantara kelopak bunga atau ranting pepohonan. Dan kini aku tahu, tangan nakal kami telah merusak sayap capung indah itu, sayap yang kuat namun rapuh. Maafkan kami capung, kesenangan kami justru membuatmu terluka.

Aku juga masih ingat ketika ibuku bercerita bahwa gigitan capung bisa menyembuhkan kebiasaan ngompol. Kebetulan saat itu Ijun, salah seorang temanku masih ngompol tiap hari, jadi aku dan teman-teman kecilku merencanakan malpraktek konyol untuk menyembuhkannya. Sore hari di halaman itu, kami kembali bermain layang-layang, namun aku dengan semangat mencoba menangkap capung, dan seekor ku dapat aku berteriak dan tanpa dikomando, teman-teman kecilku segera menyergap Ijun dan memegangnya erat-erat agar tidak kabur aku segera mendekatkan mulut capungku ke pusarnya dan secara spontan dokter capungku menggigitnya, Ijun berteriak kesakitan dan kami hanya menahan tawa. Alhasil... beberapa hari kemudian intensitas ngompolnya semakin berkurang, entah mitos itu benar atau Ijun hanya trauma hingga otak bawah sadarnyamemaksanya untuk tidak ngompol lagi. Tak perlu diperdebatkan, yang penting tujuan mulia kami tercapai, hahahai.....

Tapi kini, sepuluh tahun sesudah masa-masa indah itu kian berubah. Kemarau yang panas kini, tidak senyaman dulu untuk bermain layang-layang. Bahkan kini layang-layang terbang tanpa teman, aku tak pernah lagi melihat ribuan, ratusan atau bahkan puluhan capung menghiasi langitku kemarau ini. Kemana warna-warna indah itu pergi? Apa capung menemukan anak-anak pengompol lain di luar sana hingga ia ingin menyembuhkan mereka? Ataukah para capung bosan dengan tingkah nakal ku dan teman-teman? Munkinkah mereka bosan dan mencari langit lain untuk bermanuver lebih indah di sana. Ini musim kemarau, ini musim layang-layang dan harusnya ini musim capung pula, tapi kemana ia pergi. Merekalah yang hilang, ketiadaan mereka membuat hangatnya kemarau ini terasa hambar. Entah apa yang membuat mereka enggan kembali.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat menyimak sebuah berita yang membicarakan serangga indah itu. Prigi Arisandi, penerima Green Nobel 2011 dari Goldman  Environmental Foundation memaparkan bahwa capung dapat dijadikan sebagai indikator kesehatan lingkungan. Tubuh capung memiliki indra penciuman dan deteksi zat berbahaya. Karena itulah Capung sangat tahu kalau air telah mengandung limbah dan ia akan segera menjauhi lingkungan yang tercemar itu.

Pencemaran lingkungan kah yang menyebabkan capung-capung yang selalu kurindukan itu tak pernah datang lagi?. Aku memandang langit musim kemarau namun suram, bukan karena mendung, tapi asap hitam yang mengepul samar-samar dibawah awan. Aku menarik pandanganku ke arah bukit di sebelah selatan kampungku, 10 tahun lalu bukit itu dipenuhi tanaman bambu dan pepohonan lainnya, tapi kini, pabrik-pabrik bertengger dengan angkuh menelan semua pepohonan hijau itu. Asap mengepul dari rokok raksasa pabrik-pabrik itu. Pantaskah kemajuan industri justru mengusir mereka, dan tak ada lagi keanggunan manuver hebat sang dragonfly menemani layang-layang kemarau. Sungguh, aku merindukan mereka, ribuan warna di bawah awan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar