Senin, 28 Mei 2012

Kenapa Memilih Teknologi Kelautan


Gema kan “Jalesveva Jayamahe” sebagai hakikat bangsa Indonesia


# Hakikat Negara Indonesia
Pada 13 desember 1957 Ir.djoeanda mendeklarasikan Negara Indonesia sebagai Negara kepulauan (archipelagic state). Dengan perjuangan panjang beliau akhirnyapada tahun 1982 deklarasi tersebut diterima oleh PBB meskipun sampai saat ini Amerika Serikat belum menyetujuinya karena alas an politis.
Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang dikelilingi daratan. Pulau-pulau Indonesia merupakan hasil dari pecahan-pecahan benua besar. 2/3 dari luas wilayah Indonesia merupakan lautan. Melihat kenyataan ini Indonesia lebih tepat disebut sebagailautan yang bertabur ribuan pulau.
Dalam deklarasi Negara kepulauan yang bersifat universal tersebut di ungkapkan bahwa demi kesatuan dan keamanan bangsa laut Indonesia adalah yang berada di sekitar, di antara dan di dalam wilayah Negara kesatuan republik Indonesia. Lebih dari itu, batas wilayah laut territorial Indonesia yang semula hanya 3 mil (4.82 KM) menjadi (19.3) di ukur dari garis pantai terluar saat air laut surut.
Suatu bangsa akan hancur jika melupakan hakikatnya. Muhammad Yamin menyatakan bahwa kemakmuran masyarakat Indonesia bukanlah daratan melainkan wilayah laut yang notabene menempati 2/3 wilayah Negara kesatuan republic Indonesia. Deklarasi archipelagic state menunjukkan adanya kebanggaan besar dan pengakuan sebagai Negara bahari. Hal ini mengisyaratkan bahwa sangat diperlukan sebuah perhatian lebih dalam pengelolaan dan pemanfaatan potensi laut dalam pemenuhan kebutuhan kesejahteraan masyarakat serta keadilan dan perdamaian rakyat.
Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dunia yang menyebut dirinya sebagai ”tanah airku”. Ini berarti telah tertanam dalam diri bangsa Indonesia bahwa tanah dan air adalah jiwa bangsa. Kebahariaan Indonesia bukan hanya lautan. Selat dan laut pun merupakan bagian dari system laut.
# Sejarah kejayaan maritime
Menurut Adrian B Lapian daerah inti (heartland) dalam suatu Negara kepulauan bukanlah pulau ataupun daratan. Peran sentral bangsa ini di pegang oleh wilayah maritime.peran sentral ini telah ada jauh sebelum deklarasi kemerdekaan Indonesia.
Dealam rekaman sejarah bangsa Indonesia disebutkan bahwa di masa lampau wilayah Indonesia yang kaya akan laut, selat dan teluk telah menjadi jalur utama perniagaan yang menghubungkan kawasan timur (dataran tiongkok) dan barat (india, Persia, eropa).
Jalur pelayaran Tajung Pinang-Lingga-Batam merupakan jalur pelayaran utama. Awal mula globalisasi pertama di dunia berlangsung di kawasan ini. Di era kerajaan, di kawasan ini pernah Berjaya suatu kesultanan besar yang terdidri atas wilayah-wilayah bagian yaitu Riau – Johor – Lingga – Pahang. Pusat pemerintahannya berpindah-pindah namun seluruhnya mengutamakan wilayah laut sebagai sentral.
Majapahit dan Sriwijaya. Dua kerajaan tersebut sangat masyhur akan kejayaan kemaritimannya. Nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut. Dari laut mereka hidup. Dari laut mereka besar hingga menjadi bangsa yang besar. Mpu Nala adalah seorang arsitek kapal yang hebat di zaman itu. Perkembangan transportasi laut tak hanya dimiliki kedua kerajaan tersebut. Kerajaan-kerajaan kecil di sekitar laut pun turut meramaikan hasanah bahari Indonesia. Pada zaman itu kerajaan-kerajaan di negeri ini menguasai lautan. Menguasai jalur – jalur utama pelayaran antar Negara- antar benua.
Siluet Perahu Sandeq (Foto: http://www.flickr.com/photos/heningkata/)

# Masalah bangsa ini
Perlu diingat bahwa dari laut lah bangsa kita menjadi bangsa yang besar. Namun sangat di sesalkan ketika bangsa asing mulai menyadari potensi laut Indonesia. Mereka berusaha mengambil alih kekuasaan maritime di wilayah Indonesia. Dengan segala cara mereka berusaha mengalihkan sudut pandang bangsa kita. Masyarakat pribumi yang semula mengutamakan kehidupan laut di arahkan untuk beralih mengutamakan daratan. Masyarakat maritime menjadi masyarakat agraris. Sungguh ironis. Jiwa kemaritiman bangsa Indonesia perlahan menghilang, berubah menjadi masyarakat agraris yang selalu mengutamakan wilayah daratan. Bangsa ini seolah-olah lupa bahwa 2/3 negara kita adalah lautan. Buktinya pembangunan bangsa ini selalu mengutamakan daratan.
Laut kita luas . jika saja bangsa ini bisa mengelola dan memanfaatkan potensinya dengan baik, rakyat Indonesia pasti hidup makmur, karena luasnya lautan berpotensi besar untuk menopang kesejahteraan rakyat.
Faktanya, wilayah laut kita yang begitu luas sangat minim pemanfaatannya oleh masyarakat kita sendiri . potensi laut kita justru banyak dimanfaatkan oleh pihak – pihak asing. Bahkan pemerintah pun seolah meng anak tirikan bahari. Pemerintah cenderung meningkatkan mutu agraris yang belum optimal. Pemerintah melupakan nasib masyarakat maritime. Tidak ada keberpihakan maupun dukungan pemerintah dalam mengoptimalkan potensi laut. Contoh konkrit nya yaitu naiknya harga bbm yang merupakan kebutuhan utama para nelayan.
Kembali ke “LAUT” potensi besar peradaban Indonesia
Bangsa ini Negara kepulauan , artinya daerah inti Negara kita adalah lautan dengan segala potensi yang terkandung didalam nya. Diyakini bahwa laut akan menjadi tumpuan keberlangsungan masa depan ummat manusia. Kesadaran inilah yang seharusnya senantiasa menjiwai makna kata “tanah air “. Telah terbukti bahwa kejayaan bangsa ini tercapai di masa ketika masyarakatnya memberdayakan kehidupan maritime.
Nenek moyang kita telah member teladan kepada kita. Bahwa suatu bangsa akan memperoleh kejayaanya jika bangsa itu memahami hakikatnya. Hakikat kita adalah Negara maritime. Negara kepulauan yang kaya akan lautan. Namun akan kah kita Berjaya hanya dengan kehidupan agraris dan memarginalkan budaya maritime?
Kejayaan bangsa ini tidak dapat kita tunggu saja. Kekayaan laut kita tidak seharuhnya hanya menjadi kebanggaan omong kosong. Diperlukan adanya perwujudan kebanggaan, dengan pemanfaatan dan pengelolaan “tanah air” yang tepat dan berkesinambungan. Kejayaan itu harus kita raih. Kejayaan itu harus kita kejar.
Memori kejayaan dimasa lalu harus bisa menjadi acuan semangat kita. Menjadi sumber inspirasi dalam upaya memajukan negeri ini. Negeri maritime dengan segala potensi kekayaan yang dimilikinya. Kita harus mampu menghidupkan budaya kemaritiman menjadi peradaban bangsa. Seperti kejayaan masa lalu. Jika nenek moyang kita bisa, kita pasti bisa.
# Kesimpulan
            Memilih teknologi kelautan sangatlah tidak pantas untuk di sesali. Dengan Memahami sejarah kemaritiman bangsa kita bisa memiliki rasa kebanggaan atas kejayaan masa lalu. Memiliki kebanggaan menjadi bagian dari bangsa kepulauan ini.
            Dunia kemaritiman Indonesia kini berada dalam fase yang cukup memprihatinkan. Perhatian bangsa ini cenderung ke bidang agraris. Padahal banyak sekali pihak – pihak asing yang selalu mengincar wilayah bahari negeri kita. Pihak asing menyadari betul potensi besar yang ada dalam wilayah laut Indonesia. Mereka berusaha mengeksploitasi laut kita sementara kita masih saja mengejar kahidupan agraris. Akan kah hal ini layak kita biarkan terus terjadi ?????
            Kita sebagai kalangan akademik haruslah memahami potensi dari daerah inti kita. Kita harus bisa mencerahlkan kembali Negara m,aritim kita seperti nenek moyang kita. Potensi laut kita sangat besar, baik dalam segi pelayaran, transportasi, pertambangan, konversi energy felombang dan lain sebagainya yang pasti sangat mendukung kesejahteraan masyarakat.
            Untuk menjadi bangsa yang besar kita tidak boleh melupakan hakikat kita sebagai bangsa maritime. Jalesveva Jayamahe dilaut kita jaya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar